Pictures of the Week March 13th, 2015

DOCIT


Check out what PJ students at the International Centre of Photography were up to this week.


1Soumita_FrankFranca2
Light and Shadow/Soumita Bhattacharya

2Soumita_FrankFranca3
Light and Shadow/Soumita Bhattacharya

3Soumita_FrankFranca_LightandShadow
Light and Shadow/Soumita Bhattacharya

Grand Central TerminalGrand Central Terminal/Yolande Daeninck

Grand Central TerminalGrand Central Terminal/Yolande Daeninck

Grand Central TerminalGrand Central Terminal/Yolande Daeninck

7PlayingPortraitCamilaSvensonPlaying with Portrait – Camila Svenson/Griselda San Martin

8PlayingPortraitCJPlaying with Portrait – Shih-Chieh Wei/Griselda San Martin

9PlayingPortraitFabiSala
Playing with Portrait – Fabiana Sala/Griselda San Martin

sara frisby - montauk end of the world-1Montauk End of the World/Sara Frisby

10sara frisby - montauk end of the world-2Montauk End of the World/Sara Frisby

11sara frisby - montauk end of the world-3Montauk End of the World/Sara Frisby

12sara frisby - montauk end of the world-4Montauk End of the World/Sara Frisby

13sara frisby - montauk end of the world-5Montauk End of the World/Sara Frisby

14Wei_portrait01_20150310
Portrait – Esteban Kuriel/Shih-Chieh Wei

15Wei_portrait02_20150310Portrait – Esteban Kuriel/Shih-Chieh Wei

16Wei_portrait03_20150310Portrait – Griselda San Martin/Shih-Chieh Wei

New York 14 Arrival on Staten Island/Gareth Smit


Lihat pos aslinya

Iklan

The Two-Sentence View of History

An Indigenous History of North America

I’ve been reading a lot of accounts recently that argue indigenous people asserted much more control over many areas of the continent into the 19th century than modern people usually assume (check out The Native Ground by Kathleen DuVal or An Infinity of Nations by Michael Witgen, not to mention Hamalainen’s Comanche Empire) and I got to thinking about the response my post about the teaching of Native history received.

One of the most common responses was along the lines of “Well, Native Americans didn’t contribute much to history anyway, they didn’t do much important, it’s sad but they were basically just wiped away by Europeans.” There is an incredible amount of hindsight bias in that kind of thinking. When you are living in a society in a time where Native people have been very carefully thrust out of view, it is easy to see the dominance of European-descendants as an inevitable…

Lihat pos aslinya 421 kata lagi

8 Ill-advised Reasons for Getting Married, 1792

The History of Love

What would you say makes the most solid foundation for a marriage? Trust? Financial security? The sort of profound and death-defying passion that would make Jack & Rose weep with envy? [let’s face it, they are the modern-day Romeo & Juliet, and I’m only moderately ashamed to admit it.]

It was in the latter half of the eighteenth century that the concept of marrying for love began to gain currency in the English popular mindset, and the younger generation expected a bit more say in who their partner might be. Inevitably, centuries of parental tyranny in these matters meant that alliances negotiated in terms of acreage and titles continued to sweep many reluctant couples to the altar.

Here, however, we have a brilliant print suggesting that many people cannot be trusted with such a momentous decision, giving a range of slightly less conventional – but still remarkably unwise – reasons for marriage. Take…

Lihat pos aslinya 267 kata lagi

Macam-macam Tarian

apakah kalian tahu bagaimana cara melestarikan budaya kita? memang budaya di indonesia amat banyak dan tak terhingga apa kalian sudah melestarikan nya? setidak nya melestarikan budaya di daerah kalian sendiri. hmmmmmmm emang siih setiap orang berbeda kemauan mungkin tak sedikit orang yang lebih memilih budaya luar contohnya seperti : dance modern, cheers, musik rock n roll dll, sedangkan budaya nya sendiri ditinggal dan mungkin menurut mereka tradisional lebih monoton atau kuraang menarik. padahal kata siapa tuh tradisional membosankan? sekarang amat banyak tari tradisional yang lebih menarik contoh nya seperti berikut :

  1. Sancang Gugat
  2. Ronggeng Nyentrik
  3. Kulu-Kulu Bem dan
  4. Sorong Dayung

ada juga tari-tarian klasik yang lebih slow dan mudah diikuti seperti :

  1.  tari kijang
  2. tari blantek
  3.  tari kipas dan
  4. tari topeng

tari-tarian di atas merupakan budaya yang wajib kita lestarikan dan kita kenalkan kepada anak cucu kita agar budaya kita tidak diambil oleh orang lain, jadi kita harus bisa menyeimbangkan dengan budaya luar. meskipun kalian lebih senang dengan budaya luar setidak nya kalian tidak melupakan budaya kalian sendiri……………..

 

 

 

CARA MEMBUAT MASKER RAMBUT ALAMI

rambut merupakan bagian terpenting bagi kaum hawa, akan lebih menarik jika rambut tersebut kuat, panjang, dan tidak kusam. dengan demikian wanita akan lebih percaya diri jika rambutnya menarik untuk dilihat untuk memperoleh rambut yang kuat dan panjang bukanlah tanpa usaha. berbagai macam perawatan banyak yang ditawarkan oleh salon, lantas bagaimana jika kita tidak memiliki uang lebih untuk pergi ke salon? inilah cara merawat rambut tanpa mengeluarkan uang banyak.

MASKER BUAH PISANG

cara membuat masker dari buah pisang yaitu gunakan buah pisang yang masih segar caranya,

  1. ambil daging buah pisang kemudian siapkan air bersih sebanyak 200 ml,
  2. 3 sendok mayones
  3. 1 sendok minyak zaitun
  4. 1 sendok minyak kelapa
  5. 1 sendok jojoba oil dan madu sebanyak 2 sendok

semua bahan di atas dicampurkan dan dihaluskan dengan menggunakan blender, setelah halus balurkan pada rambut secara merata dan diamkan kira-kira selama 20 menit. bilas menggunakan air yang mengalir dan sampo agar bersih.

MASKER YOGURT 

selain buah pisang, yogurt pun dapat dilakukan untuk membuat masker rambut caranya :

  1. 2 sdm yogurt palin dan 1 sdm air jeruk nipis campur rata
  2. lumuri rambut dengan yogurt tersebut
  3. biarkan selama 5-10 menit, bilas denga  air dingin
  4. keramas dengan shampo dengan bersih